
Umurku 22 tahun ketika aku akhirnya menjalani wawancara kerja pertamaku.
Tahun 2014. Jakarta.
Aku terbang 1,5 jam dari kota kelahiranku hanya untuk itu.
Aku naik maskapai murah. Bukan karena sedang menjalani kisah ala gadis muda yang mengejar mimpi di ibu kota, tapi karena sebagai fresh graduate yang baru lulus dan belum punya penghasilan tetap, tentu saja aku hanya berhak memilih tiket yang harganya paling masuk akal kala itu.
Apalagi, ayahku bukan pendukung terbesar ide merantau.
Ayahku selalu punya jiwa pengusaha. Bukan tipe yang membangun perusahaan besar atau mengejar status sosial. Dia hanya seseorang yang sejak muda terbiasa menciptakan peluang sendiri, bekerja untuk dirinya sendiri, dan memberi pekerjaan bagi orang lain.
Dan kalau tumbuh besar di keluarga seperti itu, definisi sukses biasanya cukup spesifik.
Bangun sesuatu.
Miliki sesuatu.
Jadi bos untuk dirimu sendiri.
Punya kebebasanmu sendiri.
Itulah sebabnya, sehebat apa pun perusahaan yang menawarkan pekerjaan, semenarik apa pun jabatan yang terdengar, selalu ada satu pertanyaan yang menggantung di udara:
“Kenapa harus kerja untuk orang lain?”
Di mata ayahku, menjadi karyawan bukanlah sesuatu yang layak dikejar mati-matian.
Jadi ketika aku berangkat ke Jakarta untuk wawancara kerja pertama dalam hidupku, tekanannya bukan cuma soal mendapatkan pekerjaan.
Aku juga sedang mencoba membuktikan bahwa jalan hidup yang kupilih sendiri layak untuk diperjuangkan.
Aku tiba di Jakarta dan langsung menuju kantor salah satu perusahaan media terbesar saat itu.
Dan aku masih ingat persis bagaimana aku masuk ke gedung itu.
Dengan percaya diri yang mungkin hanya dimiliki orang berusia 22 tahun.
Baru lulus.
Belum banyak makan asam garam kehidupan.
Dan masih percaya bahwa persiapan yang matang pasti akan menghasilkan sesuatu yang baik.
Aku punya gelar sarjana.
Aku punya pengalaman organisasi.
Aku punya kemampuan komunikasi yang cukup bagus.
Aku tahu cara membawa diri.
Aku tahu cara berbicara.
Dan yang paling penting, aku terbiasa percaya bahwa kalau aku bekerja cukup keras dan menginginkan sesuatu dengan cukup sungguh-sungguh, aku bisa mendapatkannya.
Aku tidak datang dengan pikiran,
“Semoga mereka menyukaiku.”
Aku datang dengan pikiran,
“Jangan sampai bikin kesalahan saja. Sisanya pasti beres.”
Bahkan sebelum wawancara dimulai, aku sudah membayangkan diriku diterima.
Kalau dipikir-pikir sekarang, itu adalah jenis kepercayaan diri yang sangat indah sekaligus sangat naif.
Kepercayaan diri yang dimiliki sebelum hidup mengajarkan bahwa: Pintar tidak selalu menang. Siap tidak selalu dipilih. Dan menginginkan sesuatu sepenuh hati tidak berarti sesuatu itu akan menjadi milikmu.
Tapi waktu itu aku belum tahu semua pelajaran itu.
Saat duduk menunggu namaku dipanggil, hanya ada satu pikiran di kepalaku.
“Aku pasti dapat pekerjaan ini.”
Lalu aku masuk ke ruang tunggu.
Dan kepercayaan diriku langsung mendapat tamparan pertama hari itu.
Ruangan itu penuh.
Sangat penuh.
Aku sebenarnya sudah tahu bahwa perusahaan itu hanya membuka dua posisi untuk lowongan tersebut.
Dua orang.
Hanya dua.
Tapi yang tidak kubayangkan adalah melihat lebih dari delapan puluh kandidat berdiri di ruangan yang sama.
Delapan puluh.
Dan aku hampir bisa menebak apa yang ada di kepala mereka.
Hal yang sama yang tadi pagi ada di kepalaku.
“Aku pasti dapat pekerjaan ini.”
Untuk pertama kalinya hari itu, rasa percaya diriku mulai goyah.
Pelan-pelan.
Lalu semakin cepat.
Mendadak jawaban-jawaban yang sudah kulatih terasa tidak terlalu istimewa.
Perkenalan yang sudah kuhafal mulai terdengar biasa saja.
Aku mulai memperhatikan orang-orang di sekitarku.
Lulusan kampus mana mereka? Pengalamannya apa? Mereka pernah magang di mana? Apakah mereka lebih pintar dariku? Apakah mereka lebih berpengalaman? Apakah mereka lebih layak mendapat pekerjaan ini?
Lalu aku melihat nomor antreanku.
72.
Luar biasa.
Bukan cuma harus bersaing dengan lebih dari delapan puluh orang untuk dua posisi.
Aku juga kandidat nomor tujuh puluh dua.
Dalam pikiranku saat itu, ketika akhirnya giliran aku masuk, pewawancaranya mungkin sudah kehabisan energi untuk peduli pada siapa pun.
Dan begitu saja, suara di kepalaku berubah.
Dari:
“Aku pasti dapat pekerjaan ini.”
Menjadi:
“Ya… mungkin dapat. Mungkin juga tidak.”
Lucu ya.
Ternyata rasa percaya diri bisa berubah secepat itu saat bertemu kenyataan.
Dan kemudian datang bagian menunggu.
Salah satu aktivitas paling membosankan yang pernah diciptakan manusia.
Waktu terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya.
Satu per satu kandidat masuk ke ruang wawancara. Pintu ditutup. Kami yang di luar menunggu.
Lalu satu orang lagi.
Lalu satu lagi.
Lalu satu lagi.
Aku melihat pewawancara beberapa kali keluar untuk beristirahat. Aku melihat nomor antrean bergerak pelan menuju nomorku.
Semakin dekat giliranku, semakin keras aku berusaha mengumpulkan kembali rasa percaya diri yang tadi sempat tercerai-berai.
Ingat apa yang sudah dipersiapkan.
Bicara yang jelas.
Jangan kelihatan gugup.
Kamu sudah datang sejauh ini untuk kesempatan ini.
Dan akhirnya…
Giliranku.
Aku masuk ke ruangan.
Di sanalah duduk orang yang akan menentukan apakah perjalanan ke Jakarta ini adalah awal hidup baruku atau cuma tiket pulang pergi yang mahal.
Tapi ada satu hal yang tidak kuperhitungkan.
Dia terlihat sangat lelah.
Dan jujur saja, aku seharusnya bisa memahaminya.
Orang itu sudah mewawancarai puluhan fresh graduate sejak pagi. Kemungkinan besar dia sudah mendengar jawaban yang mirip, cerita yang mirip, dan ambisi yang mirip, berulang-ulang selama berjam-jam.
Sementara aku masuk dengan niat memberikan kesan pertama terbaikku.
Padahal aku mungkin adalah kandidat ke-72 yang harus dia temui hari itu.
Kami memulai dengan perkenalan standar.
Dia mengajukan beberapa pertanyaan yang sebenarnya sudah tertulis di CV-ku. Dari situ aku cukup yakin dia belum sempat membacanya sebelumnya.
Anehnya, itu justru menguntungkanku.
Aku jadi punya lebih banyak kesempatan untuk bercerita tentang diriku sendiri.
Dan yang lebih penting, aku punya kesempatan untuk mencairkan suasana.
Aku bisa melihat dia lelah.
Jadi daripada memperlakukan wawancara itu seperti ujian skripsi kedua, aku mencoba mengubahnya menjadi percakapan biasa.
Aku memang cukup suka bercanda dan lumayan bisa membaca suasana.
Beberapa menit kemudian, aku melihat dia tersenyum.
Lalu tertawa.
Lalu tersenyum lagi.
Oke.
Bagus.
Kita kembali ke permainan.
Tiba-tiba nomor 72 tidak terasa terlalu buruk.
Obrolan kami akhirnya masuk ke posisi yang sebenarnya: Public Relations Staff.
Kalau melihat latar belakang pendidikanku, jujur saja, aku bukan kandidat yang paling ideal.
Tapi sepanjang hidupku, banyak orang bilang kepribadianku lebih cocok bekerja di bidang komunikasi daripada jurusan yang pernah kupelajari.
Aku suka berbicara.
Aku suka menyampaikan ide.
Aku suka bertemu orang baru.
Dan ketika aku percaya pada sesuatu, biasanya cukup sulit menghentikanku untuk membicarakannya.
Jadi ketika dia bertanya apa yang akan kulakukan kalau mendapatkan pekerjaan itu, aku langsung bersemangat.
Aku bercerita tentang ide-idemu.
Tentang visiku.
Tentang hal-hal yang ingin kulakukan.
Tentang bagaimana aku akan belajar.
Tentang cara aku membangun hubungan dengan orang lain.
Dan dari responsnya, aku merasa semuanya berjalan cukup baik.
Semakin lama, aku mulai merasa bahwa mungkin…
mungkin saja aku benar-benar punya kesempatan.
Sampai aku mengajukan satu pertanyaan.
“Menurut Bapak, apakah visi dan rencana saya sesuai dengan yang perusahaan cari?”
Sejujurnya, aku mungkin sedang menunggu validasi.
Mungkin sebuah anggukan.
Mungkin senyuman.
Mungkin kalimat seperti,
“Ya, kurang lebih seperti itu.”
Tapi dia hanya menatapku datar.
Lalu menjawab,
“Bisa iya. Bisa tidak.”
Oh.
Bagus.
Delapan puluh persen rasa percaya diriku langsung menguap saat itu juga.
Ruangan mendadak sunyi.
Dan entah kenapa, beberapa detik hening itu terasa lebih panjang daripada seluruh waktu yang kuhabiskan menunggu di luar tadi.
Untungnya dia segera melanjutkan ke pertanyaan berikutnya.
Lalu tibalah pertanyaan yang selalu ditunggu sekaligus ditakuti oleh para fresh graduate.
“Berapa ekspektasi gajimu?”
Nah, untuk yang satu ini aku sebenarnya sudah siap.
Aku sudah punya angka di kepala.
Rencananya sederhana.
Aku akan meminta sedikit di atas UMR Jakarta saat itu. Menurutku cukup masuk akal. Aku lulusan sarjana, punya pengalaman organisasi dan magang, dan posisi ini juga pekerjaan penuh waktu.
Aku tahu angka yang ingin kusebut.
Aku benar-benar tahu.
Tapi kemudian otakku melakukan sesuatu yang sangat bodoh.
Atau lebih tepatnya, rasa putus asaku mulai mengambil alih logika.
Aku tiba-tiba teringat kerumunan di luar.
Lebih dari delapan puluh kandidat.
Dua posisi.
Puluhan orang yang sudah diwawancarai sebelum aku.
Lalu muncul ide yang, saat itu, terdengar sangat cerdas.
Bagaimana kalau kandidat lain meminta gaji normal?
Bagaimana kalau sebagian malah meminta lebih tinggi?
Bagaimana kalau aku meminta lebih rendah?
Bukankah itu membuatku lebih menarik?
Potensinya sama. Biayanya lebih murah.
Dalam kepala seorang anak 22 tahun yang sedang panik, strategi itu terdengar brilian.
Jadi aku menyebut angka.
Sekitar tiga puluh persen lebih rendah daripada angka yang sebenarnya ingin kupinta.
Aku menunggu reaksinya.
Mungkin dia akan terkesan.
Mungkin dia akan melihatku sebagai kandidat yang fleksibel.
Mungkin dia akan berpikir,
“Wah, ini penawaran yang bagus.”
Ternyata tidak.
Dia malah menatapku dan bertanya,
“Hanya segitu?”
Aku mengangguk.
Lalu dia berkata,
“Kalau mendapat gaji segitu, kamu mau tinggal di Jakarta pakai uang apa?”
Dan tepat saat itu juga…
aku tahu.
Aku baru saja melakukan kesalahan besar.
Karena dia benar.
Dari awal wawancara aku sibuk meyakinkan perusahaan itu bahwa aku layak dipilih.
Aku bicara tentang kemampuan.
Ide.
Visi.
Potensi.
Semua hal yang bisa kuberikan.
Tapi begitu aku mulai takut tidak akan terpilih…
orang pertama yang meragukan nilaiku justru diriku sendiri.
Aku.
Bukan dia. Bukan perusahaan.
Aku sendiri.
Saat keluar dari ruangan itu, aku sudah punya firasat.
Entah kenapa aku merasa semuanya sudah selesai.
Percakapan tentang gaji itu benar-benar menghancurkan fokusku.
Apa pun kepercayaan diri yang berhasil kubangun selama wawancara, lenyap lagi.
Dan tiba-tiba seluruh perjalanan ini terasa berbeda.
Pagi tadi aku datang ke Jakarta dengan keyakinan yang nyaris berlebihan.
Aku datang untuk satu kesempatan.
Satu wawancara.
Satu peluang untuk membuktikan bahwa aku tahu apa yang sedang kulakukan dengan hidupku.
Dan sekarang rasanya aku baru saja menghancurkan semuanya sendiri.
Tapi yang paling menggangguku bukan kemungkinan gagal mendapatkan pekerjaan itu.
Melainkan siapa yang harus kuhadapi setelah pulang.
Ayahku. Ayah yang sejak awal kurang setuju aku merantau. Ayah yang tidak pernah benar-benar memahami kenapa aku ingin menjadi karyawan. Ayah yang punya definisi sukses yang berbeda denganku.
Dan sekarang aku harus pulang tanpa membawa apa-apa.
Tidak ada kabar baik.
Tidak ada surat penawaran kerja.
Tidak ada cerita wawancara yang membanggakan.
Hanya tiket pesawat murah, satu negosiasi gaji yang memalukan, dan ego yang jauh lebih kecil dibanding saat aku berangkat.
Beberapa hari setelahnya, sebagian kecil diriku masih berharap.
Mungkin aku terlalu keras pada diriku sendiri.
Mungkin wawancaranya tidak seburuk yang kubayangkan.
Mungkin dia sebenarnya menyukaiku.
Mungkin telepon itu masih akan datang.
Tapi…
tidak.
Telepon itu tidak pernah datang.
Dan pada akhirnya, aku berhenti menunggunya.
Di usia 22 tahun, aku menganggap pengalaman itu sebagai kegagalan.
Wawancara yang gagal.
Perjalanan yang gagal.
Upaya yang gagal untuk membuktikan kepada ayahku, dan mungkin kepada diriku sendiri, bahwa aku siap membangun hidup di luar zona nyaman yang selama ini kukenal.
Lalu hidup melakukan sesuatu yang lucu.
Tidak lama setelah itu, seseorang menghubungiku soal pekerjaan sementara. Syarat utamanya sederhana. Mereka membutuhkan seseorang yang bisa berbahasa Inggris dengan lancar.
Itu saja.
Tidak ada delapan puluh kandidat.
Tidak ada nomor 72.
Tidak ada ruang tunggu yang menegangkan.
Tidak ada jawaban yang harus dihafalkan.
Dan syukurlah, tidak ada negosiasi gaji memalukan.
Aku diterima hampir seketika.
Memang hanya pekerjaan sementara.
Tidak glamor.
Tidak bergengsi.
Tidak ada jaminan akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.
Tapi ada satu detail kecil yang sangat penting.
Pekerjaan itu ada di Jakarta.
Dan tiba-tiba, aku punya alasan untuk mengemas barang-barangku.
Aku masih ingat pikiranku saat itu.
Mungkin ini bukan pintu yang selama ini kucari.
Tapi setidaknya ini sebuah pintu yang terbuka.
Dan saat itu, itu sudah lebih dari cukup.
Karena kalau kupikirkan sekarang, sebenarnya mendapatkan pekerjaan tertentu tidak pernah menjadi mimpi terbesarku.
Aku tidak pernah membenci kota tempat aku dibesarkan.
Aku tidak sedang melarikan diri dari apa pun.
Aku hanya penasaran.
Penasaran seperti apa hidup di luar dunia yang sudah kukenal selama ini.
Aku ingin melihat dunia.
Dan yang kumaksud bukan melihat dunia lewat liburan, foto-foto, atau perjalanan singkat beberapa hari.
Aku ingin mengalaminya. Aku ingin tinggal di tempat-tempat yang berbeda cukup lama untuk memahami ritmenya. Aku ingin bertemu orang-orang yang tumbuh dengan pengalaman hidup yang berbeda.
Aku ingin mengenal budaya yang berbeda.
Cara berpikir yang berbeda.
Definisi sukses yang berbeda.
Definisi hidup yang baik yang berbeda.
Aku mencintai tempat asalku.
Aku hanya tidak pernah membayangkan menghabiskan seluruh hidup dengan melihat dunia dari satu jendela yang sama.
Masih banyak hal yang belum kualami.
Masih banyak tempat yang belum kukenal.
Dan kalau hari ini aku bisa mengatakan sesuatu kepada diriku yang berusia 22 tahun, yang saat itu naik pesawat murah ke Jakarta dengan harapan bisa membuktikan diri kepada orang tuanya, mungkin aku akan mengatakan ini:
Kamu tidak harus memenangkan setiap kesempatan yang datang.
Kamu hanya perlu menemukan kesempatan yang tepat.
Karena kadang-kadang, pintu yang tidak pernah terbuka adalah alasan kamu akhirnya menemukan pintu yang memang ditakdirkan untukmu sejak awal.
Leave a comment